KONSEP MANAJEMEN KEUANGAN SYARI'AH


KONSEP MANAJEMEN KEUANGAN SYARI’AH

Kelebihan sistem ekonomi syari’ah tidak hanya diakui oleh para ahli di negara yang mayoritah penduduknya muslim. Ketahanan sistem ekonomi syari’ah terhadap hantaman krisis keuangan global telah membuka mata para ahli ekonomi dunia. Di bidang ritel, nasabah dan bank membagi risiko dari segala investasi sesuai dengan peraturan yang telah disetujui serta membagi keuangan yang diperoleh.
Manajemen keuangan syari’ah berpengaruh bagi masyarakat karena dengan produk syari’ah, masyarakat lebih aman dan nyaman karena manajemen keuangan syari’ah lebih menyentuh sektor real.





A. KONSEP MANAJEMEN KEUANGAN SYARIAH

1. pengertian Manajemen syari’ah
Manajemen dalam bahasa arab disebut dengan idara. Idara diambil dari perkataan adartasy-syai atau perkataan adarta bihi ini juga dapat didasarkan pada kata ad-dauran. Pengamatan bahasa menilai pengambilan kata yang kedua, yaitu adarta bihi. Oleh karena itu, dalam Elia Modern Distionary English Arabic kata management (inggris), sepadan dengan kata tabdir, idarah, siyasah, dan qiyadah dalam bahasa arab. Dalam Al-Qur’an, tema-tema tersebut hanya ditemui temui tema tabdir dalam berbagai derivasinya. Tabdir adalah bentuk masdar dan kata kerja dabbara, ydabbiru, tabdiran. Tabdir berarti penerbitan, pengaturan, pengurusan, perencanaan, dan persiapan
Secara istilah, sebagai pengamat mengertian sebagai alat untuk merealisasikan tujuan umu. Oleh karena itu, menurut mereka, Idarah (manajemen) adalah aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan personal, perencanaan dan penngawasan terhadap pekerjaan yang berkenaan dengan unsur-unsur pokok dalam suatu proyek. Tujuan adalah hasil-hasil yang ditargetkan dapat tercapai dengan cara yang efektif dan efisien.
Berdasarkan dari uraian-uraian di atas, secara implisit dapat diketahui bahwa hakikat manajemen yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah merenungkan atau memandang ke depan suatu urusan (personal) agar personal itu terpuji dan baik akibatnya. Untuk menuju hakikat tersebut diperlukan adanya pengaturan dengan cara yang bijaksana.
Menurut didin dan hendri, manajemen dikatakan telah memenuhi syari’ah apabila:
a. mementinngkan perilalu yang berkaitan dengan nilai-nilai keimanan dan ketauhidan;
b. mementingkan adanya struktur organisasi;
c. membahas soal sistem. Sistem ini disusun supaya perilalu pelaku di dalamnya berjalan dengan baik. Sistem pemerintahan umar bin Abdul Aziz, misalnya, merupakan salah satu yang terbaik. Sistem ini berkaitan dengan perencanaan, organisasi, dan kontrol, islam pun telah mengajarkan jauh sebelum adanya konsep itu lahir, yang dipelajari sebagai manajemen ala barat. Menurut karebet dan yusanto, syari’ah memandang manajemen dari dua sisi berikut:
  
a. manajemen sebagai ilmu
sebagai ilmu, manajemen dipandang sebagai salah satu dari ilmu umum yang lahir berdasarkan fakta empiris yang tidak berkaitan dengan nilai, peradaban (hadhara) mana pun.
Sebagai ilmu, manajemen termasuk sesuatu yang bebas nilai atau berhukum asal mubah. Konsekuensinya, siapa pun beloh belajar. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, bab Ilmu membagi ilmu dalam kategori berdasarkan takaran kewajiban yaitu :
1)   ilmu yang dikategorikan sebagai fardhu,ain, antara lain ilmu-ilmu tsaqofah bahasa arab,, sirah nabawiyah, ulumul Qur’an, ulumul hadits, tafsir, dan sebagainya
2)   ilmu yang dikategorikan sebagai fardhu kifayah, antara lain ilmu yang wajib dipelajari oleh salah satu atau sebagai dari kaum muslim. Ilmu yang termasuk dalam kategori ini adalah ilmu-ilmu kehidupan yang mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan, seperti ilmu kimia, biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dan manajemen.

b. manajemen sebagai aktivitas
sebagai aktivitas, manajemen dipandang sebagai sebuah amal yang akan diminta pertanggujawaban di hadapan Allah SWT. Sehingga harus terikat pada ketentuan syara, nilai, dan hadhara islam. Dalam ranah aktivitas, islam memandang manajemen sebagai kebutuhan yang selalu dalam memudahkan implementasi islam dalam kebutuhan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Implementasi nlai-nilai islam berwujud pada sifungsikan islam sebagai kaidah berpikir, akidah dan syari’ah difungsikan sebagai asas dan landasan pola pikir. Adapun sebagai kaidah amal, syari’ah difungsikan sebagai tolak ukur (standar) perbuatan.

Dengan tolak ukur syari’ah setiap muslim mampu membedakan secara jelas dan tegas perihal halal tidaknya atau haram tindaknya suatu kegiatan manajerial yang akan dilakukan. Aktivitas yang halal akan dilanjutkannya, semenntara yang haram akan ditinggalkannya untuk menggapai keridaan Allah SWT.

Post a Comment

0 Comments