Landasan Tata kelola syari'ah




Konsep tata kelola perusahaan syari’ah berbeda dengan konsep tata kelola Barat. Tata kelola perusahaan dalam islam menolak nasionalitas dan rasionalisme sebagai filosofi tata kelola perusahaan syari’ah dan mengantinnya dengan tauhid. Konsep tata kelola perusahaan dalam perspektif islam mengacu pada sistem, yaitu perusahaan diarahkan dan dikendalikan agar memenuhi tujuan perusahaan dengan melindungkan kepentingan dan hak stakeholde. Tata menegaskan unsur maqasid syari’ah yang bermakna perlindungan atas kesejahteraan manusia, yang terletak dalam bentuk perlindugan hak asasi berupa keyakinan agama, hidup, intelektual, keturunan, dan kesejahteraan.


A.Organisasi perusahaan syari’ah
1. Bentuk organisasi Bisnis dalam Perekonomian Syari’ah
Dalam perekonomian islam, bentuk organisasi bisnis secara umum dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu organisasi bisnis perusahaan perseorangan (sole proprietorship), bentuk persekutuan/ skirkah (partnership), dan organisasi bisnis mudharabah.

a. perusahaan perseorangan (sole proprietorship)
seperti sistem ekonomi kapitalis, ekoonomi islam mengizikan perusahaan swasta oleh individu dan tidak mengikatnya. Dalam perusahaan ini pemilik bebas untuk memutuskan modal, baik melalui pinjaman maupun menjual barang-barangnya dengan cara kradit.

b. persekutuan (partnershipsyirkah
kata syirkah berasal dari kata bahasa arab, yaitu dari kata syarikayasrokus, syarika/syirkatan/syarikatan yang artinya menjadi sekutu atau serikat. Secara etimologi, syirkah berarti mencapurkan kedua bagian tangan atau lebih sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi dibedakan atau bagian dengan bagian lainnya (An-Nabbani, 1990)
Adapun menurut makna syari’ah, syirkah adalah suatu akad antara dua orang atau lebih yang bersepakat untuk melakukan usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.
Persekutuan (partnership) merupakan hubungan antara dua orang atau lebih untuk mendistribusikan laba (profit) atau kerugian (loses) dari suatu bisnis yang berjalankan oleh semua pihak atau salah satu dari mereka sebagai pengelola.
1) Hukum dan Rukun Syirkah
Hukum Syirkah ialah ja’iz (boleh), pada saat Nabi SAW. Diutus sebagai Nabi, orang-orang pada saat itu telah bermuamalah dengan cara ber-syirkah dan Nabi Muhammad SAW. Membenarkannya.
Nabi Muhammad SAW. Bersabda, sebagaimana telah dituturkan Abu Hurairah r.a. Allah SWT. Berfirman :” Aku adalah pihak ketiga dari dua pihak yang bersyirkah selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya. Jika salah satunya berkhianat, aku keluar dari keduannya” (H.R. Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Ad-Daruqutni)
Rukun syirkah ada tiga, yaitu :
a) akad (ijab dan kabul) disebut juga syighat
b) dua pihak yang berakad (aqidain)
c) objek akad (maqqud ‘alaihi)
adapun syarat dari akad, yaitu sebagai berikut.
a)    Objek akadnya berupa tassarruf, yaitu aktivitas pengolahan harta dengan melakukan akad-akad. Misalnya, jual beli
b)   Objek akadnya dapat diwakilkan (wakalah), agar keuntungan syirkah menjadi hak bersama di antara para syirkah.

2) Jenis-jenis organisasi syirkah
Syarikah memiliki klasifikasi, yaitu syarikah hak milik (syarikatul amlak) dan syirkah transaksi (syirkah uqud). Musyarakah ‘ amlak (secara otomatis) adalah dua orang atau lebih memiliki barang tanpa adanya akad. Musyarakah jenis ini dibagi menjadi dua : a) syirkah jibary (paksaan), yaitu syirkah yang ditetapkan kepada dua orang atau lebih yang bukan didasarkan atas perbuatan keduannya, seperti seseorang diwariskan sesuatu maka yang diberi waris menjadi sekutu mereka ; b) syirkah ikhtiari (sukarela) timbul karena adanya kontrak dari dua orang yang bersekutu.
musyarahI ‘ uqud (atas dasar kontrak) merupakan bentuk transaksi yang terjadi dua orang atau lebih untuk bersekutu dalam harta dan keuntungannya. Syirkatul uqud.


modul link download nya ada di bawah: