BI Suntik Pasar Uang Rp633,24 Triliun per 14 Juli 2020





Bank Indonesia (BI) melakukan pelonggaran moneter lewat instrumen kuantitas atau quantitative easing (QE) lewat suntikan dana sebesar Rp633,24 triliun sejak awal tahun hingga 14 Juli 2020. Hal ini dilakukan demi menjaga likuiditas di pasar keuangan dan menjaga nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan salah satu pelonggaran instrumen kuantitas yang dilakukan adalah penurunan giro wajib minimum (GWM) dengan nilai sekitar Rp155 triliun. Kemudian, ekspansi moneter sebesar Rp462,4 triliun.

"Kondisi likuiditas tetap memadai ditopang strategi operasi moneter BI. Hingga 14 Juli 2020, BI telah menambah likuiditas di perbankan sekitar Rp633,24 triliun," ujar Perry dalam video conference, Kamis (16/7).

Ia bilang longgarnya situasi likuiditas terlihat dari rendahnya suku bunga pasar uang antar bank (PUAB), yakni 4 persen pada Juni 2020. Menurut Perry, likuiditas yang memadai dan penurunan suku bunga acuan akan mempengaruhi kebijakan suku bunga di perbankan.

"Sejalan dengan penurunan suku bunga PUAB, rata-rata suku bunga deposito dan kredit modal kerja pada Juni 2020 turun 5,85 persen dan 9,6 persen pada Mei 2020 menjadi 5,74 persen dan 9,48 persen," terang Perry.
Sejak awal tahun, Perry mengklaim terus mengucurkan likuiditas ke perbankan. Jika dirinci, bank sentral menyuntikkan likuiditas pada Januari hingga April 2020 sebesar Rp415,8 triliun.

Lalu, BI menambah jumlah suntikan likuiditas ke pasar keuangan sebesar Rp167,7 triliun pada Mei 2020.

Suntikan itu dilakukan dalam bentuk penurunan GWM rupiah dengan nilai Rp102 triliun, tidak mewajibkan tambahan giro bagi yang tidak memenuhi rasio intermediasi, termasuk term repo perbankan dan FX swap senilai Rp49,9 triliun.

"Ekspansi moneter BI yang sementara ini masih tertahan di perbankan diharapkan dapat lebih efektif mendorong pemulihan ekonomi nasional dengan percepatan realisasi anggaran dan program restrukturisasi kredit perbankan," pungkas Perry.