Kementan Dorong Standarisasi Benih dan Bibit Ternak Potensi Ekspor


Benih dan bibit ternak memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas. Guna memastikan mutunya, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong standarisasi benih dan bibit ternak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI merupakan satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan, upaya ini merupakan modal bersaing di pasar global.
“Standarisasi ini tidak hanya melindungi konsumen tapi juga bisa meningkatkan daya saing sebagai potensi ekspor keluar negeri,” ungkap Mentan Syahrul Yasin Limpo pada Kamis (11/6). Syahrul juga meminta semua stakeholder pertanian dan peternakan bekerjasama memberbaiki kualitas produk-produk pertanian, termasuk benih dan bibit ternak agar dapat menjadi potensi ekspor. “Perbaiki ekspor kita, perbaiki kualitas pertanian kita,” tegasnya.
Standar Nasional Indonesia (SNI) dirumuskan oleh Komite Teknis dan ditetapkan oleh BSN. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan termasuk dalam komite teknis yang menggagas terbitnya SNI benih dan bibit ternak. I Ketut Diarmita selaku Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan, saat ini sudah ada 43 SNI benih dan bibit ternak yang telah diterbitkan.


Adapun SNI yang telah diterbitkan terdiri dari 10 SNI untuk sapi potong, 1 SNI sapi perah, 5 SNI kerbau, 3 SNI kambing, 2 SNI domba, 4 SNI babi, 4 SNI semen beku dan cair, 4 SNI ayam ras, 8 SNI itik, 1 SNI embrio, serta 1 SNI ayam lokal. “Untuk tahun 2020 ini, sudah terbit 3 SNI baru yaitu SNI Bibit sapi simental Indonesia, limousin Indonesia dan jabres,” jelas Ketut.
Terkait SNI semen beku, pelaksanaannya dilakukan di BBIB Singosasi, BIB Lembang, serta UPT IB daerah yang menghasilkan semen beku seperti Baturiti (Bali), Jawa Tengah, Sumatera Barat, Riau, DIY, Sulsel, dan Bengkulu. Sedangkan untuk SNI benih dengan ruang lingkup embrio, penerapannya dilakukan di BET Cipelang. Untuk penerapan SNI bibit sapi potong dilakukan di beberapa UPT yang tersebar di Indonesia.

SNI bibit sapi potong dilaksanakan di BPTU HPT Indrapuri (sapi aceh), BPTU HPT Sembawa (sapi brahman dan PO), BPTU HPT Pelaihari (sapi madura, kambing PE dan itik), BBPTU HPT Baturraden (sapi perah dan kambing perah), BPTU HPT Padang Mengatas (sapi pesisir), dan BPTU HPT Siborongborong (babi). Selain itu, ada pula yang dilakukan di kelompok ternak Perpokeb Kebumen Jawa Tengah, UPTD Tuban Jawa Timur (sapi PO), dan PT Putra Perkasa Genetika (ayam KUB).
Ketut mengatakan, semakin banyaknya SNI yang diterbitkan, maka semakin banyak pula produk yang dapat disertifikasi. “Hal ini otomatis akan memperbanyak potensi produk ternak yang dapat dipasarkan sampai ke luar negeri,” pungkasnya. Sejak tahun 2011, Kementan juga sudah memiliki lembaga sertifikasi benih dan bibit ternak yang dikenal dengan nama LSPro Benih dan Bibit Ternak. LSPro (Layanan Sertifikasi dan Bibit Produk) adalah lembaga berkompeten yang sudah mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) sejak tahun 2015. (rin)